Oleh: hanstt | Juni 24, 2014

PENDIDIKAN KARAKTER UNTUK SIAPA?


Pada salah satu sarasehan nasional yang diselenggarakan Kemendiknas pada tanggal 14 Januari 2010 dideklarasikan tentang “Pendidikan Budaya dan Karakter Bangsa” sebagai gerakan nasional. Deklarasi nasional tersebut harus secara jujur diakui disebabkan oleh kondisi bangsa ini yang semakin menunjukkan perilaku tidak terpuji dan tidak menghargai budaya bangsa. Perilaku tidak terpuji tersebut antara lain memudarnya sikap kebhinnekaan dan kegotongroyongan dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Di samping itu perilaku anarkhisme dan ketidakjujuran marak di kalangan peserta didik, termasuk mahasiswa, misalnya tawuran, dan plagiarisme. Di sisi lain banyak terjadi penyalahgunaan wewenang oleh para pejabat Negara sehingga korupsi semakin merajalela di hampir semua instansi pemerintah. Perilaku-perilaku seperti itu menunjukkan bahwa bangsa ini telah terbelit oleh rendahnya moral, akhlak, atau karakter atau lebih tepatnya Moral Disaster.

Problem moral yang lain juga melanda sebagian pelajar dewasa ini. Hal itu antara lain ditandai oleh ketidakpedulian terhadap etika berpakaian dan etika pergaulan (rasa hormat kepada karyawan, guru, dan pimpinan sekolah). Problem moral tersebut tentu tidak bisa dilepaskan dari proses pendidikan dan pembelajaran yang selama ini berlangsung, yaitu pendidikan dan pembelajaran yang cenderung formalistik dan hanya mementingkan capaian akademik, dan bentuk nyata dari begitu pentingnya capaian akademik dengan mengenyampingkan nilai-nilai kejujuran adalah berusaha mencapai nilai kelulusan Ujian Nasional (UN) yang Fantastik. Dan bias jadi kita termasuk salah satu bagian dari proses pembiaran itu.

Sistem Pendidikan Nasional menyebutkan “Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab”.

Seiring dengan tujuan pendidikan ini pula, Kemendiknas mulai tahun 2010 ini mencanangkan pembangunan karakter bangsa dengan empat nilai inti, yaitu jujur, cerdas, tangguh, dan peduli. Secara akademis, pendidikan karakter dimaknai sebagai pendidikan nilai, pendidikan budi pekerti, pendidikan moral, pendidikan watak, atau pendidikan akhlak yang tujuannya mengembangkan kemampuan peserta didik untuk memberikan keputusan baik-buruk, memelihara apa yang baik itu, dan mewujudkan kebaikan itu dalam kehidupan sehari-hari dengan sepenuh hati. Karena itu, muatan pendidikan karakter secara psikologis mencakup dimensi moral reasoning, moral feeling, dan moral behavior (Lickona, 1991).

  Presentation1

 Secara praktis, pendidikan karakter adalah suatu sistem penanaman nilai-nilai kebaikan kepada warga sekolah atau kampus yang meliputi komponen pengetahuan, kesadaran atau kemauan, dan tindakan untuk melaksanakan nilai-nilai tersebut, baik dalam hubungannya dengan Tuhan Yang Maha Esa (YME), sesama manusia, lingkungan, maupun nusa dan bangsa sehingga menjadi manusia paripurna (insan kamil). Pendidikan karakter di lembaga pendidikan perlu melibatkan berbagai komponen terkait yang didukung oleh proses pendidikan itu sendiri, yaitu isi kurikulum, proses pembelajaran dan penilaian, kualitas hubungan warga sekolah, pengelolaan pendidikan, pengelolaan berbagai kegiatan siswa, pemberdayaan sarana dan prasarana, serta etos kerja seluruh warga sekolah.

Menurut Dr. Dr. Ratna Megawangi, Pendidikan karakter adalah untuk mengukur akhlak melalui proses mengetahui kebaikan, mencintai kebaikan, dan berprilaku baik. Yakni, suatu proses pendidikan yang melibatkan aspek kognitif, emosi, dan fisik, sehingga akhlak mulia bisa terukir menjadi kebiasaan fikiran, hati dan tangan (Semua Berakar Pada Karakter, Jakarta: Lembaga Penerbit FE-UI, 2007).

Di lembaga pendidikan, terutama pendidikan dasar dan menengah, menjadi suatu keharusan untuk mencantumkan berbagai karakter yang diharapkan yang diperoleh siswa setelah mengikuti pembelajaran di kelas. Maka pertanyaan besar yang tergambar dari semua dokumen pembelajaran adalah: Apakah mungkin nilai-nilai karakter tersebut bias ditanamkan kepada peserta didik, jika nilai-nilai tersebut hanya ada dan tertulis didalam dokumen belajar?

Dan lebih parah lagi adalah ketidaksukaan beberapa orang tua terhadap tindakan sekolah atas kesalahan dan pelanggaran yang dilakukan oleh anaknya di sekolah. Sikap penerimaan yang salah dari orangtua juga ikut andil besar kegagalan sekolah membudayakan perilaku baik disekolah. Karena pada dasarnya keberhasilan sekolah juga ditopang oleh dukungan orangtua siswa.

Tanpa bermaksud mengecilkan semangat kita semua menanamkan nilai-nilai tersebut, perlu kita sadari bahwa “Keberhasilan” dalam menanamkan nilai karakter adalah apabila “Orang dewasa” mampu menempatkan dirinya sebagai “Model atau Contoh” dalam semua hal. Apakah mungkin kita sebagai orangtua mampu menanamkan nilai-nilai spiritual kepada anak, jika ternyata kita orangtuanya sendiri bukan orang yang layak dicontoh. Ataukah mungkin kita sebagai guru bisa mendisiplinkan siswa dalam segala hal, misalnya tepat waktu dalam mengajar, kerapian dalam berpakaian, menjadi contoh mencintai lingkungan, menjadi contoh untuk tidak membuang sampah sembarangan; Karena tidak jarang banyak ditemukan, bahwa ternyata “Guru atau Pendidik” membuang sampah sembarangan, merokok dilingkungan sekolah, tidak disiplin, serta banyak lagi yang lainnya. Atau kita sebagai pemimpin publik, sudahkan kita menjadi contoh bagi rakyatnya? Karena ada banyak hal yang menjadi catatan buat kita semua, bahwa kepada khalayak ramai dipertontonkan kemewahan para “Pejabat” yang hidup diatas penderitaan rakyatnya. Atau seringkali kita memperlihatkan perilaku tidak terpuji, sementara kepada rakyat, kita selalu menyampaikan hal-hal yang baik, yang dalam keseharian itu semua tidak pernah kita lakukan.

Jika ternyata kita tidak bisa menjadi contoh dalam menanamkan “Nilai-nilai Karakter”, maka sebaiknya kita jangan pernah berharap terlalu banyak, bahwa “Pendidikan Karakter” akan berhasil dilembaga pendidikan, baik pendidikan formal di sekolah, lebih-lebih lagi pendidikan keluarga. Karena ujung tombak pendidikan karakter dimulai dari pendidikan dirumah. Dan keberhasilan “Pendidikan Karakter” adalah apabila pejabat publik, dan lain sebagainya, berlomba-lomba menjadi contoh terbaik bagi semuanya. Jika demikian, tidak perlu menunggu lama, kita akan melihat hasilnya. Jika tidak, maka semua akan terus menerus seperti apa yang kita lihat sekarang.

Tidak ada salahnya kita terus berharap, tetapi juga harus dibarengi dengan kesungguhan hati dari kita semua, untuk memulai segera dari sekarang, atau kita menunggu kehancuran demi kehancuran dari sikap dan perilaku kita. Semoga….!!!


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: