Oleh: hanstt | Juni 18, 2014

Belajar dari “Kesalehan” ibu Risma


Tahun 2014 telah terlanjur mendapatkan label sebagai tahun politik. Sehingga jamak memberikan kesan bahwa segala daya dan upaya untuk memperolehnya (jabatan, karir politik, atau apapun namanya) menjadi hal yang lumrah, termasuk didalamnya “bisa jadi” dengan menghalalkan segala cara, yang penting tujuan tercapai.

Menjelang perhelatan Pemilu 9 April 2014, aroma “kandidat” meraih simpati dan dukungan masyarakat sudah kental terasa. Jika ini semata-mata karena ingin “mensejahterakan” masyarakat, maka sudah pasti akan dirasakan oleh rakyat, namun itu semua dikhawatirkan akan “setali dua uang” dengan Pemilu sebelumnya, mau pemilu apapun namanya, tetap saja masyarakat seperti “menggantang asap”, berharap banyak dari apa yang telah dijanjikan selama masa kampanye, tetapi setelah pesta itu usai, kembalilah masyarakat (rakyat) kedalam kehidupan nyata, bahwa mereka hanya sebagai alat untuk para kontestan mendapatkan apa yang diinginkannya.

Tidak salah jika kita membuka mata kita, membuka mata hati kita, bahwa dari sekian banyak “pendusta” ternyata ada satu sosok “istimewa” yang amat bersahaja, yang awalnya mungkin tidak diperhitungkan baik oleh teman, apalagi lawan politiknya, namun sekarang bersinar terang mengalahkan terangnya mentari, karena terselimuti “kabut asap” politik.

Sosok tersebut adalah Walikota Surabaya, “Tri Rismaharini”. Beliau sekarang menjadi trend topik yang dibahas oleh semua pencari berita, baik elektronik maupun cetak, dalam maupun luar negeri. Tri Rismaharini merupakan Wali Kota Surabaya wanita pertama yang menjabat untuk periode 2010-2015. Sebelum menjabat sebagai wali kota, ia menduduki posisi sebagai Kepala Dinas Kebersihan dan Pertamanan (DKP). Di bawah kepemimpinannya sebagai Kepala DKP hingga wali kota saat ini, Surabaya menjadi kota yang bersih dan asri. Bahkan kota yang mendapat sebutan Kota Pahlawan ini berhasil meraih kembali Piala Adipura 2011 untuk kategori kota metropolitan setelah lima tahun berturut-turut tak lagi memperolehnya.

Dalam wawancaranya dengan beberapa stasiun TV swasta nasional, beliau memperlihatkan ketegasannya atas sikap politik yang diambil, demi atas nama kemaslahatan rakyat Surabaya yang beliau pimpin. Banyak keputusan yang dianggap kontroversial yang beliau ambil, tetapi sekarang baru dirasa manfaatnya, misalnya menolak keras pembangunan tol tengah Kota Surabaya dan lebih memilih meneruskan proyek frontage road dan MERR-IIC (Middle East Ring Road) yang akan menghubungkan area industri Rungkut hingga ke Jembatan Suramadu via area timur Surabaya, menaikkan pajak reklame yang menurut beliau membuat kota Surabaya tidak “cantik” karena papan reklame berukuran “raksasa” ada dimana-mana.

Sikap dan cara berbicara beliau yang jauh dari kesan dibuat-buat, sebagaimana sering kita lihat di layar televisi politikus negeri ini, berbicara sangat sering menyakiti hati rakyatnya, berpenampilan yang terlalu berlebihan, demi atas nama “jaga wibawa”. Padahal rakyat tidak memerlukan kewibawaan pemimpinnya yang dibuat-buat, karena rakyat memerlukan kerja nyata dari pemimpinnya, bukan sekedar janji atau lebih tepatnya sekedar cari perhatian dari rakyatnya.

Pada dasarnya sikap “KESALEHAN” dari sosok buk Risma, adalah sesuatu yang diharapkan oleh rakyat, beliau tidak “neko-neko” jika sudah bekerja untuk rakyatnya. Karena nilai-nilai yang beliau pegang patut menjadi cermin diri pejabat negeri ini, atau para kandidat yang akan berlaga memperebutkan “kursi” di senayan, atau di provinsi, serta kabupaten/kota di wilayahnya.

Kesalehan yang beliau tampilkan adalah wujud nyata, bukan berteori apalagi sekedar pemoles diri, agar kelihatan “religius”. Dalam wawancara di media, beliau tidak membaca ayat demi ayat dalam kitab suci, atau menitir penggalan haidts, tetapi menyampaikan “kegalauan” hatinya, mungkinkah saya akan masuk Surga, jika masih ada rakyat saya yang hidup menderita, apalagi menderita karena salah pimpin pada masa kepemimpinannya. Sungguh ini merupakan pelajaran berharga buat kita semua, terutama pemimpin di negeri ini. Mungkinkah “mereka” akan korupsi jika setiap tindakannya selalu memikirkan apakah saya akan masuk surga, akankah saya mendapatkan tempat terbaik di akherat nanti, jika tindak tanduk saya selama memimpin, membuat sengsara rakyat.

Menjelang Pemilu 2014, kepada rakyat sedang di pertontonkan “kesalehan” dadakan pala politisi yang akan berlaga, mereka mendadak menjadi sosok yang “agamis, religius”. Hanya demi mendapatkan simpati dan mendulang suara, apapun mereka lakukan, termasuk diantaranya seperti dijelaskan di atas. Banyak diantara mereka yang keluar masuk rumah ibadah, menjadi pengkhotbah, penceramah di rumah ibadah, mereka “mendadak agamis”, setelah pesta itu usai, sudah bisa dipastikan, bahwa mereka hamper tidak punya waktu melihat tempat yang mereka kunjungi saat memerlukan suara rakyatnya. Dan yang lebih tragis lagi, mereka lupa bahwa ada banyak janji yang mereka ucapkan di rumah ibadah itu. Akankah itu semua merubah cara pandang rakyat terhadap para “wakilnya” di kursi empuk di gedung “lembaga terhormat” itu.

Sudah semestinya kita malu, pada sosok sederhana buk Tri Rismaharini, dengan kesederhanaanya mampu memikat dan memukau kita, serta membuat hati kita menjadi benar-benar “Empati” atas ketulusannya. Selama masa kepemimpinannya, sudah 50an penghargaan yang beliau dapatkan, dan semua didapatkan benar-benar karena kerja keras beliau bersama perangkat daerahnya, sehingga pantaslah rakyat Surabaya bergerak mendukung kepemimpinan beliau, bukan seperti dibanyak daerah, rakyat bergerak berdemonstrasi menolak dan menginginkan pemimpinnya diberhentikan, tetapi tidak dengan ibuk Risma. Ini merupakan wujud dari “Kesalehan” yang nyata.

Akan kah kita membiarkan diri kita terus menjadi objek “Penipuan” dari sekolompok orang yang mengatasnamakan “wakil rakyat” atau “pemimpin rakyat” sementara setiap harinya sibuk memikirkan dirinya, keluarganya, dan bahkan mengambil dan merampas apa yang menjadi hak-hak rakyat, dan tidak jarang menipu dengan berpura-pura pro rakyat, atau bisa jadi lebih tepat mencitrakan diri sebagai orang yang peduli rakyat.  Berbeda jauh dengan apa yang dilakukan oleh buk Risma, beliau mengatakan: saya percaya Allah pasti akan menjaga keluarga saya, karena saya sekarang sedang berjuang untuk kepentingan rakyat saya. Ini benar-benar “super” yang keluar dari mulut sosok yang sederhana itu. Sekali lagi inilah nilai-nilai “karakter” yang sebenarnya, karena wujud dari “kesalehan” itu dirasakan dan bermakna untuk semuanya, bukankah kata nabi, bahwa sebaik-baik manusia adalah yang memberi manfaat untuk sekalian manusia. Entahlah, biarlah semua berjalan seperti apa maunya para “petinggi” negeri ini, sangat bisa jadi “kesadaran” akan pulih, setelah Allah mengirimkan teguran dengan cara-NYA, yang mampu membuat mereka tersadar, atau mungkin tidak sama sekali. Semoga “angina perubahan” itu sejalan dengan nilai-nilai kesalehan seperti yang dilakukan oleh sosok buk Risma.

Dan satu hal yang mesti kita sikapi,, beliau jauh dari gemerlap “Pencitraan”. Karena mudah-mudahan apa yang tampak dan tak tampak dari aktivitas beliau, adalah semata-mata demi ketulusan,,, Apalagi gebrakan beliau menutup komplek “Pelacuran” terbesar di Asia Tenggara. Tampak, bahwa apa yang beliau lakukan dilandasi karena kecintaan, ketulusan, agar generasi penerus bersih hatinya,,,,.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: