Oleh: hanstt | Mei 10, 2011

PENDIDIKAN KEPRIBADIAN vs KEJUJURAN UJIAN NASIONAL (UN)


Dalam rangka memperingati Hari Pendidikan Nasional setiap tahunnya, isu pendidikan selalu hal yang sangat menarik diperbincangkan, baik itu ditingkat regional maupun ditingkat nasional. Yang menarik adalah hampir semua kita terjebak dengan parameter normatif tentang pendidikan.

Ada banyak orang menilai bahwa keberhasilan pendidikan dapat diukur dari tingkat kelulusan sebuah sekolah atau lembaga pendidikan formal serta rata-rata nilai Ujian Nasional (UN) yang diraih oleh peserta didik di sekolah tersebut. Dan sangat sedikit yang mengedepankan faktor lain yang menjadi tolok ukur keberhasilan pendidikan.

Apakah keberhasilan yang dicapai oleh sisa tersebut didapatkan dengan cara yang baik, jujur, serta sesuai dengan norma-norma yang diajarkan atau tidak. Maka hampir semuanya luput dari pandangan kita dan atau sengaja dilupakan oleh semua kita. Dan tidak jarang pandangan ini bersumber dari seorang pendidik. Sehingga secara masif semua yang terlibat dalam penyelenggaraan pendidikan menjadi rusak.

Pandangan atau paham yang dianut oleh sebagian masyarakat, dalam hal ini adalah orang tua, lembaga pendidikan (sekolah) hampir semuanya berorientasi pada bagaimana mencapai target kelulusan 100 persen. Dengan berbagai daya dan upaya, sehingga tidak jarang hasil yang didapatkan dilakkukan dengan cara-cara yang tidak baik dan tidak patut. Misalnya dengan memberikan kunci jawaban Ujian Nasional kepada siswa, atau lebih tepatnya sering digunakan istilah “Tim Sukses UN”.

Hal ini sebenarnya tidak semata-mata menjadi kesalahan pihak sekolah, siswa serta orang tua siswa. Karena secara tidak langsung adalah karena sistem pendidikan kita yang mensyaratkan demikian. Bahwa salah satu parameter keberhasilan sekolah dinilai dari tingkat kelulusan Ujian Nasional (UN) dan rata-rata nilai Ujian Nasional tersebut. Sehingga sekolah terpacu dan dituntut untuk mengejar target tersebut, agar mendapatkan prediket sekolah yang berhasil.

Yang menjadi permasalahan berikutnya adalah, jika para pendidik terlibat didalam proses ini, maka dimana letak nilai-nilai kepribadian seorang pendidik dimata siswa. Bahwa selama 3 tahun mengenyam pendidikan di lembaga pendidikan Sekolah Menengah, siswa selalu ditekankan untuk mengedepankan aspek kepribadian yang baik, menjadi siswa teladan, serta menjadi siswa yang dapat menjadi tauladan bagi pelajar yang lain..

Akan tetapi disisi lain, guru/pendidik pada saat pelaksanaan Ujian Nasional berlangsung, melupakan nilai-nilai yang telah ditanamkan kepada siswa. Dan yang lebih fatal, banyak guru yang terlibat dalam permainan kotor Ujian Nasional (UN).

Kita tidak bisa sepenuhnya menyalahkan Penyelenggaraan Ujian Nasional (UN), pada dasarnya tujuan pelaksanaan Ujian Nasional adalah untuk mengukur tingkat pencapaian semua indikator pembelajaran yang tertuang kedalam kurikulum sekolah. Jika semua indikator-indikator pembelajaran telah disampaikan dengan tuntas, seharusnya tidak ada keraguan bagi guru, sekolah, serta orang tua jika anaknya tidak lulus menempuh Ujian Nasional.

Akan tetapi kejadian kecurangan selama pelaksanaan UN tidak pernah menunjukkan tanda akan berakhir, disebabkan oleh penafsiran dan penterjemahan dari tujuan Ujian Nasional yang salah kaprah. Dan merupakan langkah bijak jika seandainya semua pihak dapat duduk bersama dalam merumuskan kebijakan dalam pelaksanaan Ujian Nasional (UN) kedepan.

Bukanlah suatu yang mustahil, jika semua elemen yang berkepentingan dan konsen terhadap kemajuan pendidikan bangsa ini kedepan, bergerak secara bersama-sama membenahi apa-apa yang keliru dalam pelaksanaannya, pasti akan menjadi lebih baik. Dan permasalahannya adalah jika ada beberapa pihak turut bermain dalam permasalahan ini; misalnya sekolah, karena takut mendapatkan label sebagai sekolah yang  “kurang Bagus” nekad melakukan apapun, agar nilai UN menjadi sangat bagus. Atau dari pihak orang tua, Lembaga Bimbingan Belajar (LBB) agar mendongkrak daya jual pasar, sehingga mampu memberikan “Garansi”  jika “Tidak LULUS UN, Uang Kembali”,. Mungkinkah ini semua bisa berubah ke arah yang benar..??? Hanya kita yang bisa menjawabnya, karena semuanya terpulang kepada “KEBERSIHAN HATI” kita masing.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: