Oleh: hanstt | Juni 21, 2009

Mun’im Idries, Berkutat dengan Kematian


sila_1_ed25Siapa belum kenal Mun’im Idries, atau lebih tepatnya Dr. Abdul Mun’im Idries, Sp.F? Ia seorang dokter ahli forensik yang banyak menyingkap misteri di balik berbagai kematian yang menghebohkan negeri ini. Pengalamannya berkutat dengan berbagai jenis kematian tak membuatnya takut terhadap fase kehidupan yang satu ini. Mengapa? Simak obrolannya bersama Senior Editor Esthi Nimita Lubis dan Feature Editor Imam Isnaini.
Bulu kuduk terasa berdiri saat memasuki wilayah kerja Departemen Forensik dan Medikolegal, RSCM. Apalagi bagian administrasi departemen ini dimasuki dari wilayah kamar mayat yang tampak suram dan dingin. Untunglah, tak lama kemudian muncul Mun’im Idries dari salah satu ruangan dengan senyum hangat. Sungguh berbeda dari penampilan dokter pada umumnya. Dokter yang satu ini muncul dengan jaket kulit hitam dan topi hitam. Lebih mirip seorang reserse daripada seorang dokter. Apa yang membuat Mun’im memilih profesi yang mengharuskannya berkutat dengan kematian?
Konsisten pada pilihan
“Pekerjaan itu kita pilih, bukan kita terima. Jadi kalau sudah memilih, kita harus konsisten dengan pilihan itu!” tegas adik kandung Prof. Dr. dr. H. Dadang Hawari, Sp.KJ, seorang psikiater kondang ini. Mun’im mantap memilih bidang yang 38 tahun lalu masih tak banyak dilirik orang. Sebagai salah satu dari sepuluh lulusan terbaik di angkatannya, sebetulnya ia mendapatkan tawaran untuk menjadi asisten Kepala Bagian Penyakit Dalam. Namun tawaran itu ditolaknya.
Padahal, selain dianggap sebagai bidang ’kering’ dibanding dengan bidang-bidang lain dalam ilmu kedokteran, menjadi seorang ahli forensik yang harus berkutat dengan mayat dan berbagai misteri di dalamnya jelas bukanlah sesuatu yang menyenangkan. Namun Mun’im tampak menerima semua risiko yang ada dari bidang yang dipilihnya tersebut dan melihatnya sebagai suatu tantangan.
Misalnya banyak teman sesama dokter yang pada awal karirnya tak memahami bidang tugas kedokteran forensik mempertanyakan keterlibatannya dalam penggerebekan pengguna narkoba di beberapa diskotik ibukota. Puncaknya ia pernah ditegur Ikatan Dokter Indonesia karena dianggap melanggar kode etik dan HAM. Pada saat itulah ia berusaha menjelaskan bahwa tugas seorang dokter forensik adalah mencari kebenaran sejauh dapat dijangkau manusia dengan menerapkan ilmu kedokteran yang berhubungan dengan penegakkan hukum. Sehingga tak heran jika lingkup kerjanya sangat luas dan berhubungan dengan berbagai pihak.
Menelusuri Jejak Kehidupan
Menghadapi kasus kematian bagi seorang dokter ahli forensik seperti Mun’im seperti menelusuri jejak kehidupan seseorang. Melalui berbagai fakta yang ada pada tubuh mayat maupun Tempat Kejadian Perkara [TKP] maka penyebab kematian seseorang dapat direkonstruksi dari waktu ke waktu. Dengan berjalan mundur, sedikit demi sedikit bak menyusun puzle dari kisah hidup seseorang yang berakhir tragis.
Itu sebabnya Mun’im percaya bahwa cara-cara pengurusan mayat dalam Islam adalah yang terbenar. Seperti larangan untuk mengkremasi mayat. “Menghadapi suatu kematian seperti membuka kartu orang tersebut. Lewat mayatnya dapat ditelusuri jejak kehidupannya, karena kematiannya bisa menunjukkan kehidupan orang tersebut sebelumnya. Dengan mengkremasi mayat maka semua bukti jejak tersebut akan lenyap. Allah memang sudah membuat aturannya,” ungkap Mun’im.
Mun’im dengan bersemangat menceritakan beberapa kasus besar yang pernah ditanganinya. Bagaimana seorang terhormat yang diberitakan meninggal dengan tenang, padahal pada mayatnya ditemukan beberapa ‘kisah’ penyelewengan orang tersebut semasa hidup. Atau kasus meninggalnya seorang seleb karena kasus narkoba yang ternyata kisahnya tak sesederhana yang banyak diketahui orang.
Walau demikian bukan berarti hal-hal seperti yang ditunjukkan dalam sinetron-sinetron religi yang pernah beredar dan mengisahkan tentang kematian orang-orang yang zalim dalam hidupnya, misalnya mayatnya menjadi gosong atau dikerubungi belatung, merupakan sesuatu yang benar. Menurutnya semua itu ada penjelasan ilmiahnya. “Agama itu diperuntukkan untuk orang yang berakal, bukan khayalan!” tegasnya.
Mati Bukan Urusan Kita
Meski kerap menangani berbagai kasus kematian, namun hal itu tidak begitu saja menumpulkan perasaannya terhadap kematian. Saat menghadapi kematian orang-orang yang dikenalnya ia mengaku merasa terguncang juga. “Seperti ada seorang anak yang saya kenal dan baru datang seminggu sebelumnya, ternyata dia bunuh diri. Rasanya tidak enak, karena saya kenal si anak dari kecil hingga SMA,” ucapnya.
Namun lewat beberapa kasus ia melihat kekuasaan Tuhan. Misalnya ada orang yang terlihat sehat, masih berbicara dengan keluarga beberapa jam yang lalu, ternyata mendadak meninggal. Ternyata masalah jantung. “Katup jantung itu, katupnya transparan, tipis sekali. Itu hebat sekali. Melihat kebesaran Allah itu di situ,” jelas Mun’im mengenai tipisnya batas antara kehidupan dan kematian.
Tugas seorang dokter ahli forensik adalah mencari kebenaran, namun Mun’im percaya bahwa kebenaran sejati baru dapat diperoleh di akhirat nanti. Kematian baginya adalah suatu fase yang harus dilalui setiap orang. “Menghadapi kematian harus dengan ilmu agama yang S1 bukan agama Taman Kanak-kanak,” ungkapnya berseloroh. Yang penting baginya jika seorang meninggal, maka orang tersebut harus tetap beriman, tetap memegang teguh agamanya.
Kekuatannya dalam menjalani pekerjaannya kini tak lepas dari peran agama yang kuat diterapkan di dalam keluarga oleh ayahnya dulu, seorang ulama yang cukup dikenal sebagai pendiri Pusat Rohani Islam [PUSRO], Haji Iskandar Idris. Dari sang ayah, Mun’im banyak belajar mengenai perbuatan baik, kesederhanaan, dan keyakinan akan adanya rezeki. “Bapak saya bilang, lebih baik tangan di atas dari pada tangan di bawah,” kenang Mun’im.
Bekal dari sang ayah sekaligus membuatnya tak pernah merasa gentar menghadapi kematian. Bahkan menghadapi kemungkinan mendapatkan teror dari orang-orang yang kasusnya pernah diungkap dengan tuntas lewatpembuktian medis oleh dirinya. “Mati itu bukan urusan kita. Itu urusan Allah. Buat apa dipikirin? Orang kalau shalatnya sudah jungkir balik tapi masih takut mati, itu sih dipertanyakan pemaknaan agamanya!” pungkas Mun’im dengan gaya yang khas. « []
Box
Nama Dr. Abdul Mun’im Idries, SpF
Usia 62 tahun
Jabatan
• Koordinator Pendidikan S1 Bagian Ilmu Kedokteran Forensik dan Medikolegal FKUI
• Staf pengajar Ilmu Kedokteran Forensik dan Medikolegal FKUI
Kasus
Menjadi saksi ahli dalam kasus-kasus yang melibatkan beberapa artis dan pejabat terkenal

(Sumber : Alif Magazine)


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: