Oleh: hanstt | Juni 21, 2009

Menjemput Kematian


this_1_ed25Salah satu fenomena yang pasti kita hadapi dalam hidup di dunia adalah datangnya kematian. Tak dapat disangkal, pada saatnya nanti, nyawa kita akan terlepas dari jasad ini. Akan tetapi, terkadang kita enggan membicarakannya. Kematian kita pandang sebagai peristiwa yang menyeramkan.
Bisa jadi, keengganan itu disebabkan ketidaktahuan kita. Karena tak satu pun informasi yang menjelaskan hakikat kematian. Kapan kematian datang, dengan cara apa menjemput kita, dan bagaimana nasib kita setelahnya, semua mengandung misteri. Dan memang, mustahil bagi kita mengetahui hakikat kematian yang sebenarnya.
Karena itu, sebagian manusia memilih untuk tidak memikirkan kematian. Mereka memfokuskan diri menjalani hidup, yang ada dalam pikiran mereka sehari-harinya adalah bagaimana merencanakan hidup ini dan terus berusaha mewujudkan rencana itu. Maka, kematian menghampirinya, ia sangat terkejut. J. Paul Sartre, seorang filsuf Prancis beraliran eksistensialis mengatakan, kematian adalah kenyataan yang menyergap manusia secara tiba-tiba. Kematian berada di luar kendali manusia. Kedatangannya mengejutkan saat manusia sedang merencanakan hidupnya dan berusaha mewujudkan keinginan dan cita-citanya.
Kematian Bertalian dengan Kehidupan
Berfikir tentang kematian memunyai hubungan yang erat dengan kehidupan. Pandangan seseorang tentang kematian akan merefleksi pada pandangan tentang kehidupannya. Ada dua pandangan tentang kematian. Pandangan pertama berpendapat, kematian adalah akhir dari segalanya. Ia merupakan batas antara ada dan ketiadaan manusia. Pandangan kedua mengartikan kematian sebagai pintu menuju kenyataan yang lain. Kematian bukanlah akhir kehidupan manusia, melainkan jalan menuju ke kehidupan yang lain. Tentu, keduanya memunyai perbedaan dalam memaknai hidup.
Sebagian besar penganut paham eksistensialisme [paham yang fokus pada kebebasan manusia sebagai individu] cenderung pada pandangan pertama tersebut di atas. Bagi mereka hidup hanyalah menunggu mati. Apa yang diperbuat selama manusia hidup tak berarti apa-apa bagi dirinya setelah mati. Mereka tak mengakui adanya kehidupan setelah kematian. Sartre mengatakan, kehidupan setelah kematian hanyalah omong kosong.
Seorang filsuf eksistensialis yang lain, Karl Jaspers [1883-1969] memandang hidup adalah kesia-siaan belaka, tak bermakna sama sekali. Manusia hidup di dunia seperti terlempar dari suatu tempat tanpa ada kekuatan memilih untuk dilahirkan atau tidak.
Jaspers mengandaikan kehidupan manusia seperti dalam legenda Sysiphus karya Albert Camus. Legenda menceritakan, Sysiphus mendapat hukuman dari para dewa. Ia diperintahkan mendorong batu besar menyusuri lereng bukit menuju ke puncaknya. Namun setelah sampai di puncak, batu itu didorongnya sehingga menggelinding ke dasar bukit. Lalu, Sysiphus mendorongnya ke puncak lagi. Terus-menerus begitu sampai akhir hayatnya.
Begitu mendalam perasaan Camus mengenai kesia-siaan hidup. Dalam pikirannya, hidup manusia tak ubahnya seperti nasib Sysiphus sehingga ia mengatakan, satu-satunya tugas seorang filsuf adalah berpikir dan menemukan jawaban, mengapa manusia tak bunuh diri saja.
Pandangan para tokoh eksistensialis di atas berbeda dengan pemahaman Profesor John Hick. Dia adalah seorang filsuf sekaligus teolog yang cukup dikenal dengan keyakinannya tentang adanya hidup setelah mati.
Kematian menurut pandangan Hick adalah bagian dari proses perkembangan hidup manusia. Kematian bukan akhir kehidupan manusia. Justru dengan kematian, manusia menuju keabadian [immortality]. Hidup merupakan perjalanan menuju kesempurnaan. Manusia takkan mencapi kesempurnaan di dunia, karena pasti akan mati. Kesempurnaan didapat manusia setelah kematiannya. Dalam arti, manusia akan mengalami kehidupan yang lain setelah kematiannya di dunia.
Hidup di dunia bagi Hick merupakan ajang untuk mematangkan diri. Ia menganjurkan, selama hidup di dunia hendaknya manusia mencari makna hidup secara religius sehingga ketika ajal menjemput, manusia akan tersenyum karena sebentar lagi kesempurnaan akan diraihnya.
Mengingat Kematian
Menyimak beberapa pendapat para pemikir mengenai kematian, kita dapat memahami, mengapa agama mengajarkan kematian. Tujuannya tak lain adalah agar manusia tak salah memandang kematian sehingga tak salah pula menyikapi kehidupan.
Menurut pendapat sebagian pakar, kurang lebih ada tiga ratus ayat al-Qur’an dan hadis Nabi Saw yang menjelaskan tentang kematian. Uraian dari kedua sumber itu diperuntukkan bagi manusia agar tak cemas menghadapi misteri kematian. Bahkan, dianjurkan untuk selalu mengingat kematian.
Kematian yang dianjurkan untuk diingat itu bukan kematian sebagai akhir dari segalanya. Kematian, menurut konsep al-Qur’an dan hadis Nabi Saw, adalah pintu bagi manusia menuju alam berikutnya yang kekal dan abadi.
Al-Qur’an menginformasikan, manusia mengalami dua kali kematian dan paling sedikit dua kali kehidupan. Dalam surah Ghâfir [40] ayat 11 dijelaskan bahwa di hari Kemudian, orang-orang kafir berkata: “Tuhan kami, Engkau telah mematikan kami dua kali dan menghidupkan kami dua kali, maka kami mengakui dosa-dosa kami.”
Dua kali kematian yang dimaksud adalah pertama ketika manusia belum terwujud dalam pentas dunia ini dan yang kedua ketika manusia meninggal dunia. Sedangkan dua kehidupan yaitu ketika manusia hidup di dunia dan saat hidup di alam Barzah [yang menyebut tiga kali, kehidupan yang ketiga adalah di alam Akhirat].
Nasib manusia di alam Barzah [dan alam Akhirat] ditentukan oleh kehidupan manusia di Dunia. Jika di Dunia manusia banyak menanam kebajikan, sesuai dengan tuntunan agama, manusia akan menuai kebahagiaan di Akhirat dan akan hidup kekal di dalamnya. Sebaliknya, jika kejahatan yang disebar di Dunia, kesengsaraanlah yang ditunai di Akhirat dan celakanya, akan hidup kekal pula dalam kesengsaraan itu.
Kematian juga merupakan batas bagi manusia untuk menanam kebajikan [di Dunia] dan saat memanennya [di alam Barzah dan Akhirat]. Setelah kematian, manusia tak dapat lagi menanam. Salah satu manfaat mengingat kematian adalah untuk memotivasi diri agar terus-menerus menanam kebajikan sebelum batas itu tiba.
Imam Ghazali menyebutkan, selain mendorong untuk melakukan kebajikan dan menghindari berbuat dosa, mengingat kematian juga membuat manusia tak larut dan terbuai dalam kepentingan dunia, sehingga tak menghalalkan segala cara mengejar harta, pangkat, dan jabatan. Mengingat kematian juga bisa menimbulkan gairah untuk mendekatkan diri pada Allah swt.
Kematian Bukan Seperti Tamu
Meskipun kematian itu pasti datang, tapi kedatangannya tak bisa dipastikan kapan, di mana, dan dengan cara apa. Kematian tak seperti tamu yang datang dengan mengetuk pintu terlebih dahulu. Ia datang tiba-tiba. Jika tiba untuk menyambutnya, kita tak sempat lagi mempersiapkan diri, bersolek, dan berdandan.
Mengingat kematian dan mempersiapkan diri menghadapinya bukanlah milik para manula [manusia usia lanjut] saja karena kematian tak hanya datang ketika kita sudah tua. Jika direntangkan, usia manusia saat meninggal dunia, bisa jadi akan memenuhi setiap titik dalam garis mulai dari 0 sampai usia manusia tertua. Karena itu, berapa pun usia kita saat ini, perlu untuk mengingat kematian dan mempersiapkannya.
Di usia muda, saat manusia berkarya, memaksimalkan kemampuan untuk meraih kehidupan dunia sampai pada titik yang ia mampu, hendaknya manusia tak melupakan bekal untuk kehidupan Akhirat.
Begitu juga saat manusia berada pada kematangan hidup secara fisik, pikiran, dan materi [mungkin sekira usia 40 tahun]. Kenikmatan itu tak menjadikannya lupa, justru lebih memfokuskan diri memperbanyak bekal. Lebih-lebih bagi kita yang sudah mencapai usia 50 atau 60 tahun. Bekal hidup di Akhirat adalah menu wajib sehari-hari karena sudah dekat masanya menuai.
Manusia yang selalu mengingat kematian dan mempersiapkan diri menghadapinya disebut Nabi Saw sebagai manusia yang paling cerdik.
Ibnu Umar ra. pernah berkata, “Aku pernah mengadap Rasulullah Saw sebagai orang ke-sepuluh yang datang, lalu salah seorang dari kaum Anshar berdiri seraya berkata, ‘Wahai Nabi Allah, siapakah manusia yang paling cerdik dan paling tegas?’ Beliau menjawab, ‘Mereka [adalah] yang paling banyak mengingat kematian dan paling siap menghadapinya. Mereka itulah manusiamanusia cerdas; mereka pergi [mati] dengan harga diri di dunia dan kemuliaan akhirat.” [HR. ath-Thabrani, disahihkan oleh al-Munziri]. « [imam]
Mengurus Kematian
Membicarakan kematian bukan persoalan yang mudah. Namun kematian adalah keniscayaan yang tak bisa dihindari sehingga mau tak mau kita harus selalu siap menghadapi adanya kematian di sekitar kita. Apa yang bisa kita lakukan jika ada kematian di sekeliling kita, misalnya tetangga, kerabat, atau bahkan orang terdekat kita?
Menjelang dan saat kematian:
1. Membimbing orang yang menghadapi kematian dengan membaca kalimat tauhid.
2. Memejamkan matanya dan berdoa.
3. Meletakkan jenazah menghadap kiblat.
4. Menutupi jenazah dengan kain yang ukurannya bisa menutupi sekujur tubuhnya.
5. Menyegerakan pengurusan jenazah.
Saat-saat kematian:
Meski saat ini adalah saat yang paling berduka, namun jangan lupa untuk mengurus keterangan kematian dari Rumah Sakit, Puskesmas, atau visum dari dokter. Setelah itu minta surat pengantar RT/RW untuk mendapatkan Surat Keterangan Pelaporan Kematian dari Lurah [surat kedua dapat dimintakan setelah proses penguburan selesai].
Memandikan jenazah:
Yang memandikan adalah keluarga atau orang yang dianggap amanah dan terpercaya untuk memandikannya.
Benda-benda yang dibutuhkan:
•Dipan.
•Batang pisang jika diperlukan.
•Air bersih secukupnya.
•Sabun.
•Sampo.
•Kapur barus halus.
•Cotton buds.
•Air mawar, bubuk cendana, atau daun bidara [sesuai kebutuhan].
•Jika kematian disebabkan penyakit menular, dapat dipakai alat pelindung seperti sarung tangan, masker, sepatu bot, dan sebagainya.
Tempat yang harus disediakan:
•Tempat pemandian yang layak dan tertutup agar proses pemandian tak disaksikan orang lain.
Mengafani:
Yang mengkafani adalah orang yang sudah ahli di bidang ini dan dipercaya pihak keluarga.
Benda-benda yang dibutuhkan:
•Kain kafan putih bersih, untuk pria tiga lembar dan wanita lima lembar.
•Kapas secukupnya.
•Kapur barus halus.
•Minyak wangi, bubuk kopi, bunga/daun pandan, atau ratus untuk menghilangkan bau sesuai dengan kebutuhan.
Menshalatkan:
Untuk memudahkan pelayat menshalatkan jenazah, maka jenazah yang telah dimandikan dan dikafani dapat diletakkan di ruang tamu atau ruang tengah yang luas dengan menghadap kiblat [kepala jenazah di sebelah Utara]. Perhatikan kesesuaian tempat agar masih ada area yang lapang untuk pelayat melakukan shalat jenazah.
Menguburkan:
Yang dilakukan sebelum menguburkan jenazah:
•Mengutus seseorang untuk mengurus administrasi pada pekuburan yang dituju.
•Mengurus kendaraan yang akan digunakan menuju ke pekuburan.
•Menentukan siapa orang yang akan turun ke liang lahat, siapa yang akan membaca doa, dan siapa yang akan memberikan sambutan.
Setelah prosesi berlalu:
Beberapa hari setelah jenazah dikuburkan, keluarga dapat melaporkan kematian pada Suku Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil untuk WNI paling lambat 60 hari sejak tanggal kematian, dengan melengkapi persyaratan sebagai berikut:
•Surat Keterangan Kematian dari Rumah Sakit, Puskesmas, atau visum dari dokter.
•Pengantar RT/RW untuk mendapatkan Surat Keterangan Pelaporan Kematian dari Lurah.
•Fotokopi Kartu Keluarga dan KTP orangtua jika yang meninggal belum menikah.
•Fotokopi Akta Perkawinan/Akta Nikah jika yang meninggal sudah menikah.
•Fotokopi Akta Kelahiran yang meninggal.
Hal-hal lain yang dapat dilakukan keluarga yang meninggal setelahnya:
•Hubungi tempat bekerja yang meninggal; minta informasi mengenai asuransi pegawai, dana pensiun, uang cuti, dan lain-lain. Perusahaan biasanya akan membantu menyediakan surat-surat yang diperlukan. Perhatikan dengan seksama peraturan asuransi kesehatan yang berlaku. Keluarga yang meninggal mungkin masih berhak atas asuransi kesehatan.
•Hubungi customer service perusahaan penerbit kartu kredit; coba ketahui apakah kartu kredit yang meninggal dilindungi asuransi yang bisa melunasi sisa cicilan kartu kreditnya jika ada.
•Hubungi kantor pemberi Jaminan Sosial jika ada. Mungkin bisa mendapatkan klaim kematian, tabungan, dana pensiun, dan dana-dana lainnya.
•Hubungi perusahaan asuransi jiwa dan kesehatan; Jika yang meninggal memiliki asuransi jiwa, keluarga harus mengurus klaimnya. Hubungi kantor asuransi tersebut untuk mengetahui detil yang diperlukan. Klaim biasanya dibayarkan sekaligus dalam jumlah besar. Teliti juga skema pensiun yang meninggal, apakah yang akan dibayarkan sekaligus atau bulanan. Periksa
•biaya medis [jika ada], mungkin ada klaim medis yang perlu diurus.
•Hubungi bank yang rekeningnya dimiliki yang meninggal untuk menginformasikan kematiannya dan menanyakan bagaimana cara menarik dana atau menutup tabungannya.
•Hubungi kantor Pelayanan Umum, seperti PLN, kantor pos, agen koran, dan lain-lain untuk menginformasikan kematiannya.
•Hubungi kantor pajak yang bersangkutan untuk menginformasikan kematiannya. Untuk pajak bangunan harus dilakukan balik nama terlebih dahulu, barulah pemilik baru membayar pajak bangunan.
(Sumber : Alif Magazine)


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: