Oleh: hanstt | November 12, 2008

Keluar dari Pertapaan


Hari ini adalah hari yang indah yang kesekian kalinya saya harus mensyukuri dan berterima kasih pada Allah. Setelah melewati banyak kendala dalam perkara hati, akhirnya perlahan demi perlahan saya mencoba untuk bangkit dari kepedihan masa lalu yang masih membayangi pelupuk mata ini. Berapa lama kita akan memegang masa lalu yang membuat kita menjadi lelah sendiri ?

 

Bumi masih basah oleh tangisan sang hujan dan hari ini beberapa orang yang menghubungi saluran pribadi saya banyak melakukan konsultasi perkara hati. Malam lalu, saya melakukan dialog dengan salah seorang guru spiritual saya yang mengajarkan untuk melihat kehidupan dari kaca mata orang-orang mukmin.

 

Orang-orang yang di hadiahkan persoalan dalam kehidupannya adalah orang-orang yang di mata Allah adalah orang-orang pilihan yang derajatnya akan di naikkan. Musibah datang silih berganti dalam kehidupan ini dan ketika musibah itu datang, orang-orang yang memiliki kecerdasan spiritual yang berhasil menemukan hikmah dari sebuah kejadian yang bisa membuat dirinya berubah menuju arah yang lebih baik adalah orang-orang yang di janjikan baginya Syurga.

 

Sobat pembaca, segala musibah dan hal yang kita alami, bukankah semuanya adalah cara Allah untuk mengingatkan kita agar semakin dekat dengan-Nya ?  ada orang yang dia enggan menceritakan segala persoalannya kepada orang lain dan ada orang yang dengan gampangnya menceritakan segala kegundahannya untuk mendapatkan nasehat dari orang lain. Kita ada di orang yang manakah ?

 

Jika kita adalah orang yang berfikir bahwa apa yang terjadi adalah tanggung jawab kehidupan kita sendiri sehingga kita tidak perlu bercerita tentang persoalan kepada orang lain, salahkah jika saya mengatakan bahwa mereka sedang dijauhkan dari “nasehat” Allah ? Mengapa ? karena saya ada menemukan orang yang seperti itu.

 

Segala nasehat yang jelas-jelas berbau kebenaran diacuhkan dengan mengatakan ”apa yang akan terjadi bukanlah tanggung jawab anda”. Bukankah agama itu bermula dari saling menasehati (Ad-din nun nasehah) ?

 

Mari kita sejenak bertanya dalam hidup ini. Apakah kita sudah termasuk orang yang membutuhkan nasehat bijak dari orang-orang yang lebih berakhlak dari kita ataukah kita sudah merasa sebagai seorang ”mandiri” yang mengacuhkan nasehat bahkan dari orang yang sayang pada kita, ibu misalnya.

 

Jalan yang Allah berikan kepada kita cukup unik dan penuh misteri. Seorang ulama pernah berkata dalam perenungan saya, dunia ini adalah akhiratnya orang-orang yang bertaqwa. Ketika kemaksiatan menggoda kita, ketika amarah menerjang kita, mampu kah kita membasahi ”api” syetan itu dengan mendekatkan diri melalui rangkaian shalat wajib dan shalat malam ?


Hanya dengan mendekatkan diri kepada Allah kita merasakan tenang. Ketika kekayaan iman dan hati telah menyatu, disanalah semua ilmu akan terbuka, semua tabir akan terbuka…

 

Ilmu tanpa iman, layaknya sebuah gelas tanpa isi. Mari kita bersihkan hati dengan mendoakan ”musuh-musuh” kita agar mereka mendapatkan hidayah dari Allah dan mari kita bersihkan hati dengan menunaikan ”tombo ati” yang disampaikan Opick dalam lagunya

Semoga apa yang saya dapatkan dari hasil perenungan dan muhasabah ini menjadi hal bermanfaat untuk kita.

 

Wassalamualaikum Wr Wb,

Insan Kehidupan

(Dari Milis) 


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: