Oleh: hanstt | September 23, 2008

Manajemen Kritik


Umpan balik dalam proses komunikasi personal dan organisasi bisa bermakna positif dan negatif. Positif karena umpan balik digunakan untuk memperbaiki proses dan pencapaian tujuan program berupa kinerja individu dan organisasi. Dari sisi negatif, umpan balik bisa berupa desas-desus yang tidak diketahui derajad kebenarannya. Misalnya penyampaian kritik tanpa didasarkan fakta. Asal bunyi. Dalam prosesnya apakah   yang dikritik akan berespon sama? Belum tentu. Seperti juga respon terhadap jenis alunan suara musik; baik  yang lembut maupun yang keras dari musik rock.

Tiap orang akan berespon berbeda. Ada yang berespon senang, ada yang tidak dan ada yang cuek saja atau netral. Begitu pula respon terhadap isi kritikan. Pasti responnya beragam. Ada yang senang, ada yang tenang-tenang saja, dan ada pula yang merasa terganggu hingga marah atau emosional. Ada yang marah karena isi kritikan dan ada yang dongkol karena cara penyampaiannya. Biasanya atasan atau pejabat paling tidak tahan dikritik. Padahal seharusnya mereka memberi teladan untuk siap dikritik. Sebaliknya ada yang senang karena ada orang yang peduli atau perhatian terhadap sesuatu walau dilakukan lewat kritik. Paham seperti ini menganggap setiap kritik sekalipun sangat pedas pasti ada hikmahnya. Karena itu menurut paham ini terima sajalah setiap kritik dengan kebesaran hati. Karena kalau balik dilawan akan kontra produktif. Sia-sia saja.

Hemat saya sekurang-kurangnya ada tiga paham tentang kritik. Ada paham yang menganggap setiap kritik selalu bernuansa negatif. Kritik dianggap mengganggu tataran kelembagaan yang sudah dianggap mapan. Karena itu harus dibalas dengan tindakan represif. Tidak ampun;harus digilas. Ini biasanya terjadi pada sistem kelembagaan yang otoriter atau sentralistik. Dan cenderung defensif. Lalu paham kedua memandang kritik adalah fenomena yang biasa-biasa saja. Karena itu juga harus dihadapi secara biasa juga. Dengan kata lain tidak harus ditanggapi dengan emosi yang berlebihan. Bahkan tidak salahnya ditunjukkan  oleh wajah cerah. Paham ketiga justru kritik itu hendaknya dibudayakan. Dalam pengertian, kritik harus dikemas sedemikian rupa plus segala argumentasinya. Harus disertai dengan bukti-bukti faktual. Akan lebih baik lagi dengan memberi saran-saran jalan keluarnya. Paham ini dikemas dalam rangka pengembangan sumberdaya manusia yang kritis-konstruktif dan terbiasa dengan keterbukaan.

Dalam dunia kerja, misalnya di perusahaan, umpan balik termasuk kritik adalah adalah hal yang biasa. Apakah itu terjadi pada  manajer terhadap karyawan, antarmanajer, dan antarkaryawan. Bisa dilakukan dalam bentuk pertemuan formal dan atau informal. Dalam konteks menjaga lingkungan kerja yang nyaman maka manajemen kritik harus diperhatikan. Jangan sampai kritik itu mengakibatkan pergeseran tajam antarkepentingan individu atau kelompok. Kalau tidak bisa dicegah maka akibat berikutnya adalah terganggunya hubungan kerja yang harmonis. Ujungnya adalah kinerja perusahaan bakal menurun.

Dalam manajemen kritik maka ada beberapa hal yang bisa diterapkan. Pertama, kritik hendaknya disampaikan  dalam waktu dan ruang yang tepat. Jangan sampai kritik dilakukan di depan umum. Dan hindari pula mengeritik ketika yang dikritik sedang dalam kondisi mental yang sedang tidak fit. Kalau dilanggar, yang dikritik merasa dipermalukan yang bakal berujung pada dendam. Dengan demikian sang pengritik harus memiliki empati tinggi. Kemudian yang kedua, kritik atau komen ditujukan pada kegiatan atau perilaku spesifik yang dikritik. Dengan kata lain jangan berupa sindiran-sindiran yang kurang jelas apa maknanya. Apalagi kalau bersifat provokasi. Bisa runyam jadinya. Ketiga,  kritik dapat diungkapkan sambil menghargai yang dikritik. Misalnya, “kalau saja anda hati-hati bekerja maka kerusakan produk tidak mungkin terjadi. Padahal saya tahu anda selalu peduli dengan mutu”. Bentuk yang keempat adalah setelah mengkritik manajer memberi penjelasan dimana letak kesalahan yang diperbuat karyawannya. Bahkan terjun langsung ikut membantu karyawan dalam proses pekerjaan bawahannya itu.  

Jadi intinya, manajemen kritik merupakan bagian dari proses belajar bagaimana menjadi individu yang bertanggung jawab atas perkataan dan perbuatannya. Mengkritik yang elegan dicerminkan adanya rasa sportivitas. Dilakukan secara tulus demi perbaikan semua pihak. Dan juga tanpa sifat-sifat contrast effect pada seseorang. Dengan demikian kritik itu sebenarnya bisa menjadi sesuatu yang elok.

 


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: